Satu sms di sore hari sehabis hujan, satu sms yang membuatku tergugu dalam diamku dan satu sms pula yang membuatku dihadapkan ke realita nyata. Dirimu bilang bahwa engkau sedang memadu kasih saat itu sehingga tidak bisa menjawab telponku. Selintas terlintas di kepala saat kita makan mie bersama dengan adikmu ditengah hujan. Engkau menceritakan kisah cintamu yang lalu, rasa sakit dikhianati, amarah karena keluarga tidak dihargai, dan kekecewaan atas sebuah kepercayaan. Entah engkau sadar atau tidak, saat itu aku mencuri-curi pandang ke arahmu dan kulihat matamu sedikit sembab. Dan engkau memintaku untuk menjauhi dirimu yang menurutmu “tidak jelas itu”. Aku hanya tersenyum dan tidak bisa berkata apa-apa. Ah…ingin rasanya aku memelukmu saat itu dan mengatakan bahwa aku akan selalu berada di sampingmu. Meski engkau selalu tertawa dan tidak percaya saat ku bilang sayang, kangen, rindu, tapi ah… aku memang menyimpan rasa itu.
Dan sms sore itu pun masuk ke hpku. Aku terhenyak, diam, namun tanpa sadar mulut ini malah mengucap “Alhamdulillah…” Yah…aku senang akhirnya dirimu menemukan sosok yang lebih baik meski itu bukan aku, sekaligus lemas karena ternyata sosok itu bukan aku. Dengan sisa-sisa kekuatan, kubalas smsmu “Woke…sori…sori wis ngganggu. Have a nice day yak!
” Hahaha…ternyata aku masih bisa memberi smile di akhir smsku. Aku sendiri tidak tahu apa arti senyuman itu, kecewa, ngenes, atau sebagaimana layaknya pria yang berusaha tegar dengan sesungging senyum yang melintang di bibir untuk menutupi kerapuhannya.
Jarak kita memang dekat, tapi ternyata dirimu berada jauh dari duniaku. Lebih jauh daripada saat kau di luar negeri. Cinta ini mungkin hanya bisa sampai disini, dan tak perlu menunggu dua tahun untuk mengetahui akhirnya. Mungkin inilah epilog dari cerita kita. Aku dan dirimu terlalu jauh berbeda. Dan memang salahku yang tidak mau mengerti perbedaan itu. Hingga pada akhirnya, aku tetap gagal meyakinkan dirimu atas rasa ini. Mungkin ini memang yang terbaik, aku dengan hidupku dan dirimu dengan hidupmu. Seperti katamu, bila waktunya tiba, semua akan menjadi indah. Aku masih percaya itu, meski itu tidak berarti kita bersatu.
Ahh… ternyata pendekatan multidimensionalnya Kuntowijoyo kurang ampuh diterapkan di dalam sosiologi percintaan. Atau mungkin karena aku yang tidur saat kuliah dulu sehingga ilmu itu tidak terserap sempurna. Entahlah…
Cerita ini (mungkin??) hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama, karakter, kejadian ataupun peristiwa itu (mungkin??) hanyalah kebetulan semata.
***
Posted by dapidchan 
Posted by dapidchan 

Posted by dapidchan 

Lebaran tahun ini agak berbeda dengan lebaran-lebaranku tahun sebelumnya. Berhubung aku udah punya penghasilan sendiri, aku mencoba mendapatkan sisi lain dari lebaran dengan berbagi bersama keluarga dan sesama. Mencoba menyalurkan keinginan yang lama terpendam, aku siapkan sendiri makanan untuk lebaran. Resepnya semua download dari internet. Khehehe…bikin black forest dan miso tofu jepang, dan ternyata hasilnya lumayan lah buat pemula sepertiku.
Ramadhan minggu kedua ini, aku kembali jadi mahasiswa lagi dan memulai aktivitas pagi dengan kuliah. Biasa berangkat mepet2 jam kantor, kali ini jam 6 udah rela-relain buat mandi terus meluncur di jalanan. Yah…karena aku cma bisa masuk kuliah sebelum jam kantor mulai sih, jadi kuliah pagi gak boleh dilewatin begitu aja.
Higher than everybody else. Close to the sky.
Hari ini kamu berangkat. Toku hanarete itemo itsumo kimi no sobani iteyaru kara.