Ternyata, oh ternyata…

“Hahaha…itu mungkin cuma alergi dingin saya, pid. Disana hawanya lembab kan? Coba banyak minum madu dan pake pakaian hangat deh.” Begitulah kira-kira saran om saya ketika saya telpon dan bercerita tentang kondisi saya. Sekarang badan saya agak mendingan rasanya. Batuk-batuk sudah jarang lagi, yang ada ingus yang keluar terus-terusan. Gak nyangka kalo saya ternyata alergi terhadap dingin. Kupikir saya orangnya kuat terhadap dingin apalagi ada juga impian saya untuk pergi ke kutub utara suatu saat nanti. Haduh…..ternyata oh, ternyata…

there’s something wrong with me

Beberapa hari ini, saya merasa agak kurang enak badan. Batuk-batuk gak berhenti-henti dan merembet ke dada yang terasa nyeri gara-gara keseringan batuk. Sedikit takut juga apabila ada yang salah dengan badan saya, mengingat saya pernah kena TB. Pertama kali kena juga diawali dengan batuk-batuk kecil yang saya diamkan saja hingga beberapa minggu. Yah…karena pada dasarnya saya ini termasuk orang yang anti dengan obat-obatan. Bagi saya obat itu sama saja dengan racun, sehingga sebisa mungkin saya hindari untuk mengkomsumsi obat.

Nah…sekarang saya kembali mengalami batuk-batuk kecil itu ditambah dengan dada yang terasa nyeri. Saya menjadi agak paranoid. Saya takut bila nanti penyakit lama saya itu kambuh lagi. Apalagi posisi saya saat ini di perantauan yang otomatis membuat saya jauh dari keluarga. Belum lagi di kantor saya yang baru, saya masih termasuk ke dalam barisan pegawai baru. Saya jadi takut kalo gara-gara penyakit penerimaan saya jadi sedikit di pertimbangkan kembali.

Pikiran-pikiran itu yang membuat saya kemudian sibuk mencari obat batuk di apotek maupun warung-warung, bahkan tomat yang saya percaya bisa mengobati radang tenggorokan pun saya buru. Pendeknya semua usaha saya coba karena saya tidak ingin jatuh sakit. Oh..God, what’s wrong with me???

saya dan waktu…

Tak terasa waktu yang berjalan telah memakan usia saya. Some people said, life begin at 30. Saya coba untuk merenungkannya. Umur saya hampir menginjak kisaran angka itu dan saya masih belum bisa memberikan hal terbaik bagi diri saya maupun orang-orang yang saya sayangi. Terus terang saja, sama halnya dengan teman-teman saya yang seangkatan, saya juga dipusingkan oleh pemikiran tentang jodoh. Memang jodoh orang tua bilang sudah ada yang ngatur, dan saya biasanya menanggapinya dengan senyuman. Saya sendiri tidak tahu arti senyum saya saat ditanya hal itu.

Akhir-akhir ini saya sering berpikir, sungguh enak kalau sudah berkeluarga sendiri. Pulang kantor ada istri yang menyambut dengan senyuman manis (meski ada juga yang bilang kalau sudah menikah lama, kadang hal itu tidak terjadi lagi. hehehe…) Kembali ke persoalan, kenapa pikiran ini akhir-akhir ini sering muncul adalah karena saya merasa waktu saya tinggal sedikit. Saya merasa kesehatan saya sudah tidak sekuat ketika saya masih kuliah dulu. Yah…saya mulai berpikir layaknya orang tua yang mendambakan ada seseorang yang merawatnya. Pemikiran itu pula yang memberikan saya keberanian untuk mengutarakan perasaan saya kepada seseorang yang saya rasa bisa saya ajak berbagi. Sekali lagi…waktu pula yang saya rasa belum tepat untuk mengutarakannya, apalagi gadis yang menarik hati saya berada jauh di kampung halaman saya.

Waktu…entah…kali ini waktu yang akan mempertemukan hati sayya dengannya atau malah sebaliknya. Tapi setidaknya kali ini saya sudah punya keyakinan terhadapnya, tidak seperti dulu lagi…

perubahan…..

Mencoba mengganti suasana baru di “rumah”ku ini. Mulai postingan ini gak ada lagi gambar-gambar lucu yang selalu ada menemani. Mencoba lagi membuka cakrawala baru dan menatap masa depan dengan senyuman yang lebih lebar lagi. Terkadang kita terlena dengan pepatah bahwa semua itu proses. Bahwa waktulah yang akan mendidik kita lebih dewasa, namun ketika kita terlena dengan kondisi yang ada justru sebaliknya yang akan terjadi. Waktulah yang akan membunuh kita, karena itulah saya mencoba lagi menata hidup saya. Memilah-milah lagi segala peristiwa yang pernah terjadi dalam hidup saya. Termasuk mencoba melupakan seseorang yang pernah meninggalkan senyuman penuh luka di hati saya dengan menggantinya dengan kasih yang sesungguhnya.

Dalam setiap proses, hal yang paling sulit bukanlah di pertengahan jalan, namun rintangan terbesar justru ada sewaktu kita hendak memulainya. Ini pula yang mendorong saya untuk merubah tampilan “rumah” saya ini sebagai simbol perubahan dalam hati dan pikiran saya yang selama ini stuck di situ-situ saja. Oleh karena itu mulai postingan ini gak ada lagi deh gambar-gambar lucu si onionhead yang akan menyertai. Hihihihihi… :p